Rupiah Anjlok, Anggaran MBG Berpotensi Membengkak

Table of Contents

Spechindo - Halo Sobat Speech, Dalam Artikel ini kita akan membahas mengenai Anjloknya nilai Tukar Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan benerkah program MBG berpotensi membengkak? Yuk sama-sama kita bahas...

Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar saat ini sangat signifikan, penurunan nilai rupiah menjadi isu penting untuk dibahas karena mempengaruhi berbagai aspek ekonomi, mulai dari biaya barang impor yang semakin tinggi, naiknya harga bahan-bahan pokok, hingga menurunnya investor asing dalam negeri.

Penurunan nilai rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga kondisi Internal dalam negeri. Ketidakpastian pasar global, konflik geopolitik, hingga perubahan harga komoditas menjadi pemicu utama tekanan terhadap kurs rupiah.

Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz, membuat jalur logistik dunia terganggu dan memicu kenaikan harga minyak mentah global. Kondisi itu ikut menekan perekonomian banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dilansir dari laman ums.ac.id penurunan nilai rupiah mencetak rekor terendah sepanjang sejarah Indonesia yaitu menembus di angka Rp. 17.850 per dollar USD berdasarkan data perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.

Selain itu juga, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut mengalami  penurunan ke angka 6.500 dengan mayoritas saham berada di zona merah.

Nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran terhadap berbagai program pemerintah yang membutuhkan pendanaan besar.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program prioritas nasional yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak sekolah, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya

Di tengah besarnya kebutuhan anggaran yang telah disiapkan pemerintah, pelemahan mata uang nasional berpotensi menambah beban pembiayaan yang cukup tinggi.

Kondisi ini muncul karena sebagian kebutuhan produksi pangan, distribusi, pengemasan, hingga peralatan pendukung masih memiliki keterkaitan dengan bahan baku maupun komponen yang dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan berbagai kebutuhan tersebut cenderung meningkat.

Rupiah Melemah Apakah Program MBG Akan Tetap Berjalan?

Sejak awal kampanye, Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program yang paling gencar akan diaktualisasikan oleh Prabowo-Gibran. Untuk menjalankan program tersebut pemerintah pada tahap awal mengalokasikan anggaran sekitar Rp71 triliun yang diambil dari APBN dan Dana Desa.

Namun dalam perkembangannya, kebutuhan dana yang diperlukan ternyata jauh lebih besar dibandingkan estimasi awal. Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan bahwa untuk memperluas cakupan layanan hingga puluhan juta penerima manfaat, kebutuhan anggaran dapat meningkat menjadi sekitar Rp. 116 triliun hingga akhir tahun 2025. Bahkan terdapat permintaan tambahan dana sekitar Rp. 50 triliun untuk mendukung percepatan program MBG ini.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah Prabowo-Gibran masih terus menuai pro dan kontra di masyarakat. Program yang di awal memerlukan pendanaan 71 triliun rupiah dinilai berpotensi memangkas anggaran dari sektor-sektor lain.

Kondisi ini mengkhawatir banyak pihak karena disinyalir secara pembiayaan akan terus membengkak, dan beberapa sektor penting akan terdampak akibat pemangkasan anggaran, seperti sektor pendidikan dan kesehatan.

program berskala nasional ini beresiko mengalami pemborosan karena sifatnya yang universal, di mana anak-anak dari keluarga mampu juga menerima manfaatnya meskipun sebenarnya tidak membutuhkan.

Sulitnya pemantauan terhadap kualitas makanan juga menjadi tantangan tersendiri. Sulit untuk memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi dan kualitas yang ditetapkan.

Terbukti dengan banyaknya anak-anak yang keracunan makanan karena program MBG ini, selain itu ditambah lagi dengan persoalan baru dimana banyak dapur-dapur MBG terpaksa tidak beroperasi lagi karena dana belum turun.

Sekian banyak masalah yang belum bisa teratasi oleh pemerintah, mereka malah membuat gagasan program baru, yaitu membuat kantin sekolah sebagai tempat pengganti dapur MBG khusus untuk di daerah tertinggal

Dengan banyaknya masalah yang ditimbulkan oleh Program MBG mengakibatkan munculnya Aksi Demonstrasi yang dilakukan oleh Mahasiswa-Mahasiswa dari beberapa kampus di Indonesia (10/6). Mereka melakukan unjuk rasa terkait dengan program MBG yang disinyalir tidak memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia.

Tuntutan utama mahasiswa terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah mendesak pemerintah untuk menghentikan sementara (moratorium) dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut.

Mahasiswa menilai program ini berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit. Secara lebih luas dalam berbagai aksi demonstrasi nasional, tuntutan terkait MBG ini disuarakan bersama 5 poin aspirasi lainnya.

Pertama, Evaluasi dan Hentikan Program MBG, dengan tuntutan menolak program MBG dan proyek Koperasi Desa Merah Putih karena dinilai kurang tepat sasaran dan memboroskan APBN.

Kedua, Stop Pemborosan APBN, dengan tuntutan mendesak pemerintah agar melakukan efisiensi ketat pada pos-pos anggaran belanja negara.

Ketiga, Turunkan Harga Pokok dan BBM, dengan tuntutan mendesak pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan menurunkan harga kebutuhan pokok serta Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memberatkan daya beli masyarakat.

Keempat, Hentikan Militerisme, dengan tuntutan menolak adanya keterlibatan atau pendekatan militeristik di ranah sipil.

Kelima, Transparansi Pemerintah, dengan tuntutan meminta pemerintah untuk berhenti mengelak dan mengakui secara terbuka bahwa kondisi ekonomi dan kenegaraan saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Nah, banyak banget masalah yang ditimbulkan dari program MBG ini Sobbb…Lalu apakah pemerintah akan tetap melanjutkan program ini?

Menurut Presiden Prabowo Subianto ia menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan upaya pemerintah untuk memastikan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia nasional. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada acara Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, (3/6)

Presiden Prabowo menekankan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) dan Program MBG memiliki peran strategis dalam mendukung kelompok masyarakat yang membutuhkan serta memperkuat kualitas generasi penerus bangsa. Presiden juga menyampaikan bahwa sejumlah negara maju telah menerapkan program serupa untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusianya.

“Jadi program ini adalah sangat penting. Dan program ini, kalau berhasil, akan menimbulkan suatu kemanjuan yang sangat besar untuk ekonomi kita,” ujar Prabowo.

Lalu apa jawaban pemerintah terkait demo yang dilakukan Mahasiswa kemarin?

Menurut kepala Bakom Muhammad Qodari bahwa pemerintah tidak akan menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hal ini ia tegaskan karena banyak penerima manfaat dari adanya program MBG ini, seperti Ibu Hamil, Ibu Menyusui, balita dan anak sekolah. Jakarta (14/6).

Muhammad Qodari juga menuturkan bahwa Makan Bergizi Gratis merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, dan untuk itu pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN), akan tetap menjalankan program MBG ini sambil melakukan evaluasi dan perbaikan secara menyeluruh terkait pengelolaan MBG.

Nilai Rupiah Melemah, Apa Tantangan ke Depannya Bagi MBG?

Menurunnya nilai tukar rupiah menjadi tantangan baru bagi program makan bergizi gratis (MBG), dengan naiknya Harga barang-barang pokok, melejitnya biaya produksi, serta tidak stabilnya harga bahan bakar minyak (BBM), yang masih dipengaruhi oleh pergerakan kurs berpotensi meningkatkan beban anggaran pemerintah.

Pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, seperti : meningkatkan produksi pangan dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Dengan demikian program MBG, dapat berjalan lebih maksimal meskipun menghadapi tekanan ekonomi global.

keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang dialokasikan, tetapi juga oleh transparansi pengelolaan, efektivitas pelaksanaan, serta kemampuan pemerintah dalam menjawab berbagai tantangan yang muncul.

Jika mampu dikelola dengan baik, program ini berpotensi menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih unggul di masa depan, seperti yang banyak kita dengar di Media Sosial 2045 Indonesia Emas.

Demikianlah Pembahasan Artikel ini, Semoga Program-program yang digiatkan oleh pemerintah dapat berjalan dengan baik dan transparan. dan kita sebagai masyarakat dapat menerima kebermanfaatan atas semua program yang dibuat oleh pemerintah.

Ditulis Oleh : Ahmad Rojali

Posting Komentar